Saturday, July 10, 2010

Hikmah di Haramkannya Babi

beberapa saat yang lalu, dunia di gegerkan dengan penyakit flu babi. Korbannya sudah ratusan orang dan sudah ada ribuan orang ayng terinfeksi virus H1N1 tersebut. Allah SWT mengharamkan babi sebagaimana firmannya yang artinya:

“ Tidak aku temukan dalam wahyu yang diturunkan kepadaku, sesuatau yang haram untuk memakannya, kecuali bangkai atau darah yang mengalir atau daging Babi, sebab semua itu adalah nista (kotor) atau binatang yang di sembelih untuk selain Allah; maka barang siapa karena keadaan terpaksa dengan tidak menginginkannya lagi tidak melampaui batas, maka sesungguhnya Rabb-mu Maha pengampun lagi maha penyayang.”(Q.S. Al-An’aam : 145)

dan dalam ayat yang lain. Yang artinya

“Diharamkan atas kalian adalah bangkai, darah, dan daging Babi”


secara tekstual ayat diatas ayat ditas menerangkan akan haramnya memakan daging babi, dan disebutkannya kata “daging” di atas hanyalah mayoritas maksudnya adalah daging jika dimakan. Oleh karena itu, Imam Nawawi dan Imam Ibn Qudamah Al – Maqdisi menyatakan ijma’ (kesepakatan ulama) tentang haramnya memakan satu bagian tertentu dari binatang babi. (walaupun bukan dagingnya). Imam Ibn Hazm menyatakan, “Sepakat seluruh ulama tentang keharaman memakannya, maka tidak halal seseorang memakan daging tertentu dari babi, baik daging, lemak, urat, tulang,otak ataupun yang lainnya.

Sejumlah penelitian medis ilmiah telah menetapkan bahwa babi, dibandingkan semua jenis hewan yang ada, termasuk daging yang mengandung behan berbahaya bagi tubuh manusia. Diantara penyakit yang muncul karena memakan babi adalah sebagai berikut:

  • penyakit parasit. Diantaranya adalah berkembangnya cacing spiral (termasuk cacing yang paling berbahaya bagi manusia). Dan semua daging babi pasti mengandung cacing ini. Bisanya cacing ini berkumpul dalam otot-otot. Maka orang yang memekan daging babi, bisa menyebabkan sakit yang sangat, dan bisa menyerang diafragma sehingga menyebabkan nafas terhenti, kemudian mati. Dan satu lagi cacing yang berbahya adalah cacing pita yang panjangnya bisa mencapai 10 kaki, bisa menyebabkan kejang-kejang perut dan darah rendah, juga bisa menyebabkan adanya cacing di otak orang yang memakan daging, hati, paru-paru,jeroan dan lainnya. Cacing lainya adalah cacing Scars, biasa menyebabkan disfungsi pada paru-paru dan komplikasi seluruh pencernaan. Cacing Engcalostoma, Balharesia, Dosentaria bisa menyebabkan leukimia, pendarahan, dan penyakit lainnya yang bisa menyebabkan kematian. Dan cacing jenis lainnya yang ada di dalam babi yang jumlahnya lebih dari 30 jenis dan bervariasi tingkat bahyanya.

  • claPenyakit dari bakteri, seperti TBC (Tuberculosis), Cholera Tivudiah, Pharatefouid, demam tinggi yang cepat, dll
  • penyakit dari virus, seperti penyakit disfungsi saraf, disfungsi otot jantung (qalbu),influenza, dis-fungsi mulut sapi, dll

ditambah lagi, babi mengandung minyak lechitin (minyak babi) yang sangat berbeda dengan hewan lainnya. Oleh karena itu orang yang memakan daging babi mengandung lechitin jenis ini dan kelebihan kolesterol dalam darah mereka, sehingga menambah kemungkianan terkena penyakit kanker, jantung, pendarahan dada, yang semuanya bisa menyebabkan kematian secara mendadak.

Kemudian dampak buruknya lagi, perut akan sulit mencerna, karena daging babi di perut baru sekitar 4 jam bisa di cerna, berbeda dengan daging lainnya. Juga bisa menambah kegemukan, merasa sesak dan menambah lemahnya ingatan.
Oleh karena itu dalam Al-Quran mengharamkan kita untuk memakan babi, karna babi banyak merugikan bagi manusia yang memakannya..

Read More......

Friday, July 9, 2010

Bersalah Dapat Hadiah

pada suatu hari Abu Nawas sedang berada di istana ketika raja Harun Ar Rasyid sedang sibuk menerima rombongan tamu dari kerajaan sahabat. saat itu hanya ada dua orang pelayan saja. Abu Nawas diminta untuk membantu para pelayan itu.

ketika Abu Nawas sedang membawa mangkok gulai yang masih panas untuk hidangan makan siang, tiba-tiba kakinya terpeleset. seketika gulai yang dibawanya tumpah dan sebagian mengenai kaki sang Raja.

sebenranya sang raja sangat marah dengan kejadian tersebut. tetapi karena bnyak tamu, ia tahan kemarahannya. "Ma'afkan aku tuan-taun, atas kelakuan pelayan kami yang kurang ajar tadi", kata raja.

dari balik pintu tiba-tiba Abu Nawas membaca sepotong ayat Al-Quran yang artinya, "Orang-orang yang bertakwa, yaitu mereka yang menafkahkan hartanya, baik diwaktu lapang dan sempit, dan orang-orang yang menhan amarahnya..."

"ya..., aku memang sedang menahan amarah", sahut raja seketika.
"dan memafka kesalahan orang...", sambung Abu Nawas meneruskan aya.

"Baik.., aku maafkan kesalahanmu", sahut raja lagi.
"Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan", sahut Abu Nawas mengakhiri ayat.

"Hai pelayan, kemari! ini terimalah uang lima ratus dirham sebagai hadiah", kata raja kepada Abu Nawas. "lain kai tolong kamu siram kakiku dengan gulai, biar kamu bisa menerima hadiah lebih besar lagi dariku", raja melanjutkan ucapannya.

sementara Abu Nawas hanay mesem-mesem menahan geli, akubat ucapan sang raja tadi.

Read More......

Apakah Buroq itu?

Bulan rajab identik dengan peristiwa agung yaitu Isra’ Mi’raj. Berbicara Isra’ Mi’raj, tidak komplit rasanya bila tidak menyinggung masalah Buroq, kendaraan yang diyakini membawa Nabi. Namun, apa dan bagaimana Buroq itu sendiri masih diperdebatkan.


“Ketika aku sedang tidur di Hijr,” cerita Nabi SAW, ” Jibrîl datang kepada ku dan mngusikku dengan kakinya. Aku segera duduk tegap. Setelah kulihat tidak ada apa-apa. Aku berbaring kembali. Ia datang lagi untuk kedua kalinya. Ketiga kalinya ia mengangkatku. Aku bangkit dan berdiri disampingnya. Jibril mengajakku kedepan pintu masjid. Di sana ada seekor binatang putih, sperti peranakan kuda dan keledai, dengan sayp disisi tempat mneggerakkan kakinya. Langkahnya sejauh mata memandang”.


Ada bebrapa penafsiran mengenai apa atau makhluk apa yang ‘ditunggangi’ Nabi Muhammad SAW ketika beliau Mi’raj ke Sidrât A-Muntanâ. Ada yang menyebutnya Burâq sebagai peranakn kuda dan keledai berwarna putih yang bersayap, ada yang mengatakan maklhuk menyerupai burung garuda, namun ada juga yang mengatakan sebagai kilat atau cahaya atau makhluk yang terbuat dari kilat. Karena kata Burâq sendiri berarti Kilat.


Kecepatan ‘tebang’ Burâq konon secepat cahaya. Kilauan cahaya pada satu detik saja bisa mencapai 186 ribu mil. Bisa dibayangkan betapa cepatnya Nabi Muhammad SAW pada saat itu melakukan perjalanannya dari Masjidil haram di Mekkah ke Masjidil Aqsa di Yarusalem hingga Mi’raj ke Sidrâ Al-Muntahâ di langit ketujuh.

Sulit untuk memastika kendaraan atau makhluk apa yang sebenarnya digunakan oleh Nabi SAW pada saat itu, apalagi banyak dari para ulama yang masih memperdebatkan hal ini. Tentu perselisihan itu berakibat pada perselisihan akal yang terjerumus dalam perangkat kaifa (bagaimana) dan bertanya tentang kekuasaan Allah SWT dan usaha untuk menundukkan masalah ini terhadap sebab-sebab yang biasa atau hukum-hukum yang kita alami atau logika kemanusiaan.

Allah Maha Suci dan Maha Tinggi dari semua itu. Sebaiknya tidak perlu merasa heran apalgi sampai larut dalam debat kusir membahas hakikat Burâq. Dengan apapun jenis makhluk ‘tunggangan’ yang menemani Nabi Muhammad SAW pada saat itu serta mungkinkah ada makhluk yang sedemikian hebat bisa melesat secepat cahaya, karena kita seharusnya memiliki satu jawaban atas semua itu; Allah SWT berkehendak agar hal itu terjadi dan untuk itulah Allah SWT mengatakan kun fayakun jadilah, maka jadilah. Wallâhu a’lam.



Read More......

Wednesday, September 30, 2009

AL JALIL (Yang Maha Agung)

Kata Al-Jalil berasal dari kata al-jaliah arti mulanya adalah unta yang besar. Dalam Al-Qur'an tidak ditemukan kata Al-Jalil. Namun ada dua ayat yang menunjukkan sifat ini dengan menggunakan lafadz Dzul jalaali wal ikraam (Yang Memiliki Keagungan dan Kemuliaan).



Imam Ar-Razi dalam tafsirnya menjelaskan bahwa kata Al-Jalil mengandung isyara menafikan. Misalnya Alllah tidak berbentuk fisik, tudak butuh, tidak lemah dan sebagainya. Pendapat lain menyatakan bahwa Al-Jalil adalah Dia yang berwanang memerintah dan melarang. Dia yang menampakkan diri kepada mahluk-Nya, tetapi mereka tidak mampu melihat-Nya dengan mata kepala, karena mata kepala mereka tidak mempu menyaksikan keindahan dan kesempurnaan-Nya. Dialah Tuhan yang Maha Agung dan Maha Perkasa. Tidak ada energi, materi, atau waktu yang menyamai keagungan, keperkasaan dan kekekalannya. Dzat, sifat dan keberadaan-Nya Agung dan besar serta tidak dapat diukur dengan waktu dan tempat. Tetapi Dia di sini, dimana-mana dan di segala zaman. Pengetahuan-Nya sangat besar, segala sesuatu diketahui-Nya, karena Dialah yang menciptakannya. Kekuasaan-Nya sangatlah besar, Dia meliputi (menguasai) seluruh alam bahkan setiap atom. Kasih sayang-Nya sangatlah besar. Dia mengampuni dosa-dosa hamba-Nya. Kemurahan-Nya tidak terbatas. Kekayaan-Nya tidak pernah habis. Siapakah yang harus di hormati, dipuji, dicintai, dan ditaati selain Dia yang Maha Agung dan Maha besar.

Imam Ghozali dalam menjelaskan sifa ini beliau berpendapat yang lebih rinci. Menurutnya lafadz Al-Jalil menyandang sifat-sifat jalaal (keagungan dan kesempurnaan). Yaitu Maha Kaya atau tidak butu, Maha Suci, Maha Mengetahui, Maha Kuasa, dan Maha yang lainnya. Dengan demikian, dapat dibedakan antara al-Kabir, al-'Adzim, dan Al-Jalil. Kebesaran sifat-sifat-Nya dan adzim-Nya merupakan gabungan dari kebesaran dzat dan sifat yang dinisbatkan kepada jangkauan mata hati (immaterial). Yang mengandung sifat ini di namai al-jamil (cantik/indah). Memang pada mulanya, kata indah atau cantik digunakan untuk melukiskan sesuatu yang bersifat material yang dijangkau oleh mata kepala. Namun kata indah juga kemudian mencakup segala hal yang bersifat imameterial yang dijangkau oleh mata hati. Sesuatu yang bersifat immaterial yang cantik dan indah, jika dijangkau oleh mata hati, akan melahirkan kelezatan dan kegembiraan melebihi kelezatan dan kegembiraan yang dirasakan oleh mata kepala.

Allah maha indah. Segala keindahan dan kebesaran dari-Nya. Orang-orang arif yang dapat menjangkau sekelumit dari keindahan Allah melalui mata hati mereka akan merasa sangat merasa sangat bahagia dan mencintai-Nya. Bukankah mata merasa senang dan mencintai kepada sesuatu yang bersifat indah?.

HIKMAH AL-JALIL

Dalam meneladani sifat ini, manusia dituntut agar penampilannya selalu indah dan bersih, baik lahir maupun batin. Ia hendak menyandang sifat-sifat yang mulia, serta budi pekerti yang luhur, yang melahirkan keagungan dan mengandung kekaguman. Sifat dan pribadi demikian akan mengandung dan mengundang simpati dan cinta, serta keseganan dan wibawa ayng mengantar mata orang lain tidak mempu memendang wajahnya. Bukanlah Allah Yang Maha Inadah dan mencintai keindahan. Bukankah Dia yang karena keindahn-Nya dan keagunagan-Nya menjadikan mata manusia tak mampu menatap-Nya.

Dalam Al-Qur'an disebutkan :

“Tatkala Musa datang untuk bermunajat dengan kami,
pada waktu itu telah kami tentukan dan Tuhan telah berfirman (langsung)kepadanya,
berkatalah Musa: “ Ya Tuhanku, nampakkanlah diri-Mu kepadaku agar dapat melihatmu”.
Tuhan berfirman: “Kamu sekali-kali tidak sanggup melihat-Ku,
tetapi lihatlah bukit ini, maka jika ia tetap ditempatnya (seperti semual)
niscaya kamu dapat melihatku. Tatkala Tuhannya menampakkan dirinya Kepada gunung itu,
dijadikan-Nya gunung itu hancur luluh dan Musa pun jatuh pingsan.
Maka tatkala Musa sadar kembali, dia berkata, “Maha Suci Engkau. Aku bertaubat kepada Engkau dan aku orang yang pertama beriman.
(QS.AL-'Araf:143)

Read More......

Tuesday, September 29, 2009

AL-WASI' ( Yang maha Luas)

Kata Wasi' mempunyai makna kaya, mampu, luas, meliputi dan langkah panjang. Dalam Al-Qur'an, banyak ayat-ayat yang menerangkan tentang hal tersebut. Kesemua artinya menerangkan tentang sifat Allah. Salah satunya terdapat dalam firman Allah dalam surat-Nya jyang artinya :

kepunyaan Allah barat dan timur,
maka kemanapun kamu menghadap disitulah wajah Allah,
sesungguhnya Allah maha luas dan mengetahui.
(QS. Al-Baqorah:155).

Dalam kontek ayat ini, Allah memberikan izin untuk mengarahkan kemana saja shalat bila sedang melakukan perjalanan. Allah al-Wasi' artinya keluasan Allah tanpa batas. Pengetahuan-Nya, rahmat-Nya, kekuasaan-Nya, kemurahan-Nya, dan semua sifat-sifat yang indah tidak terbatas dengan waktu dan ruang. Al-Wasi' juga dapat siartikan bahwa Allah Maha Memberi keluasaan tidak bertepi. Bahkan orang-orang dzalim yang banyak melakukan perbuatan dosa tetap Dia beri. Dengan sifat al-Wasi', kedurhakaan orang-orang dzalim itu laksana setitik kotoran didalam luasnya samudra kesabaran Allah. Siantara tanda dari al-Wasi' adalah keragaman yang tidak terbatas pada makluk-Nya. Lihatlah bagaimana manusia kaya dan miskinpun diciptakan dari bahan yang sama, tetapi ditak ada sua wajah dan dua suara yang sama.


Keluasan Allah Maha mencakup segalanya. Hal ini dapat dicerminkan di tengah-tengah kita.melalui orang-orang yang berpengetahuan luas, yang banyak memberikan manfaat. Memalalui orang-orang yang sangat kaya dan dermawan, yang mau menolong kaum miskin yang jauh maupun dekat. Melalui orang-orang yang pemurah, lemah lembut, dan sangat sabar, yangluas keadilannya dan memberiakn keyakinan yang amat besar. Demikian juga semua kwalitas baik lainnya, yang mutlak tidak terbatas dalam diri manusia saja melainkan seluruh isi jagat raya ini merupakan tanda keluasaan Allah SWT.

Imam al-Ghozali dalam menjelaskan ayat ini beliau menjelaskan bahwa kata al-Wasi' ini berkaitan dengan ilmu Allah yang meliputi segala sesuatu. Dan juga meliputi segala karunia-Nya. Hal ini sesuai dengan firmannya :

Warohmati wasiatkulla syai'in
(“Rahmat-Ku meliputi segala sesuatu”)
(QS. Al-A'raf:156)

Dengan memperhatikan kontek ayat di atas maka dapat dipahami bahwa Allah Maha Luas Rahmat-Nya yang berarti juga meliputi segala sesuatu, termasuk keluasan ilmu, rizki, ganjaran, dan pengampunan-Nya. Kesemuanya tudak bertepi, panjang tidak berakhir, bahkan petunjuk-petunjuk-Nya pun beraneka ragam tanpa batas. Dialah yang lus ilmu-Nya, yang tidak akan mengalami kekeliruan, tidak juga salah, dan bahkan memberi ilmu, melalui pencarian atau tanpa usaha (wahyu). Yang luas kekuasaan-Nya teteapi tidak akan melakuakan aniaya, tidak juga tergesa-gesa, tidak akan mengecam apalgi menyiksa tanpa sebab yang jelas, bahkan akan memafkan dan menganugrahkan berbagai anugrah. Yang luas dalam pertunjuk-Nya, tidak akan menyesatkan, apalagi menjerumuskan, tetapi membeimbing dengan amat baik menuju apa yang dikehendaki-Nya, bahkan melibihi dari apa yang dikehendaki. Demikian Allah yang maha luas.


HIKMAH AL-WASI'

Dalam meneladani sifat ini, hendaknya manusia memperluas wawasannya dengan pengetahuan dan pengelaman, dan dengan taqwa dan pemaafan. Memperluas tangannya dengan keterbuakaan dan kelapangan. Memperluas tindakannya dengan hikmah dan bijaksana. Orang yang memiliki baban dan tanggung jawab berat yang rasanya tidak dapat di pikul akan memperoleh kekuatan dan keringanan jika mereka teru menerus mambaca nama Allah ini.

Ya Allah Yang Maha Luas anugrah dan pengampunan-Nya,
wahai yang meliputi rahmat dan ilmu-Nya segala sesuatu,
lapangkan untuk kami rizki-Mu, curahkanlah kepada kami berkah-Mu,dan anughahilah kami
dari aneka nikmat-Mu yang engkau ketahuidan mengantar kami kepada ridha-Mu,
serta selimutilah kami dengan pakaian yang melindungi
dari aneka macam cobaan dari segala anugrah-Mu.

Read More......

SEANDAINYA TIDAK ADA ATMOSFER


Pernahkah kita melihat apa saja yang terdapat di langit ketika kita melihatnya?. Tentu kita semua ingin mengetahuinya. Sekarang mari kita amati langit tersebut! Lapisan udara yang mengelilingi di namakan “Atmosfer”. Atmosfer memiliki tujuh lapisan. Setiap lapisan memiliki susunan gas-gas yang berbeda, semua berada dalam keselarasan yang sempurna antara yang satu dengan yang lainnya. Dalam Al Qur’an Allah menyatakan bahwa Dia menyusun langit dalam tujuh lapisan.


Kata “samaa” yang dipakai dalam bahasa ayat Al Qur’an juga diartikan sebagai langit. Ia juga dianggap mengacu pada lapisan ruang angkasa seperti halnya pada langit dan bumi. Jika makna yang digunakan adalah makna yang ke dua, maka ayat tersebut menyatakan bahwa atmosfer tersiri atas tujuh lapisan. Tentu saja ayat ini dapat memiliki makna yang lain. Menariknya ketika kita mempelajari langit, kita menemukan bahwa langit terdiri dari tujuh lapisan. Berikut ini adalah lapisan-lapisan langit :




-Troposphere : yaitu lapisan terdekat dengan lapisan bumi. Ketebalan lapisan ini bervariasi tergantung pada iklim. Semakin tinggi dari permukaan maka suhunya akan semakin turun, pada keitnggian maksimal antara -510C (-600F) dan -790C (-1100F).

-Stratosfer : yaitu lapisan diatasnya troposphere. Semakin keatas suhu akan meningkat.

-Mesosfer : yaitu lapisan diatas Stratosfer. Di sini suhu udara turun hingga mencapai -730C (-1000F).

-Thermosfer : yaitu lapisan diatas mesosfer. Suhunya meningkat dengan perlahan. Perbedaan suhu antara malam dan siang hari lebih dari 1000C (2120F).

-Exosfer : yaitu laipsan yang dimulai daro ketinggian 500 kilometer (310 mil) diatas permukaan bumi.

-Lonosfer : yaitu gas dalam wilayah ini ditemukan dalam bentuk ion. Gas-gas yang terionisasi inilah yang menjadi nama dari lapisan ini.

-Magnatosfer : karena medan magnetik bumi terdapat pada lapisan ini, maka dinamailah magnatosfer. Lapisan ini berfungsi seperti persai dan terletak antara 3,000 dampai 30,000 kiloeter (1,850 sampai 18,500 mil) diatas permukaan bumi.


Seperti penjelasan sebelumnya, wilaya ini, yang melindungi bumi dari radiasi yang berasal dari antariksa, disebut Sabuk Van Allen. Untuk memiliki pemahaman yang lebih baik mengenai pentingnya Atmosfer bagi kita, mari kita liat planet-planet lain. Anggaplah sekarang kita berada di Merkurius. Planet tersebut tidak memiliki atmosfer.
Bagaimanapun, Atmosfer sangat penting artinya bagi kita. Hingga sejau ini kita telah mengetahui pentingnya gas-gas dalam atmosfer, seperti oksigen, atau sifat atmosfer yang melindungi bumi. Namun, ternyat boot atmosfer terbuat dari udara yang ringan. Hal ini tidak erarti bahwa atmosfer tidak berbobot. Sebenarnya, lapisan-lapisan udara yang beratnya berkilo-kilo meter di atas kita ini sangatlah berat. Menurut penelitian, atmosfer menekan setiap orang hingga berto-ton beratnya. Hal ini dinamakan “tekanan udara”.
Sekarang mungkin saja kita akan bertanya, terus bagaimana kita bisa tidak terhimpit?. Kita tidak terhimpit olehnya karena tubuh kita memiliki kekuatan untuk menahan beban atmosfer. Kita tidak akan berfungsi dan bahkan tidak akan ada dalam tekanan udara yang lebih rendah. Itulah mengapa, tanpa tekanan ini, darah yang bersikulasi dengan cepat dalam tubuh kita akan berusaha menekan dengan hebat pembuluh darah kita. Tanpa keseimbangan dari tekanan atmospheric ini, pembuluh darah kita akan pecah karena tekanan darah yang tinggi. Karena itulah manusia tidak dapat hidup di lingkungan seperti yang terdapat di planet Merkurius, yang tidak memiliki atmosfer.
Atmosfer sangat penting bagi kehidupan di bumi. Atmosfer sangat banyak manfaatnya, salah satunya telah dijelaskan di atas, suatu dinatara adalah artinya penting gas yang membentuk Atmosfer bagi kehidupan manusia. Jika atmosfer tidak ada, makhluk hidup tak akan dapat bernapas, sehingga tak akan ada kehidupan di atas bumi.
Fungsi Atmosfer yang lain adalah melindungi bumi kita dari serangan yang berasal dari luar angkasa, isalnya meteor. Atmosfer mencegah meteor jatuh menimpa bumi, dan menimbulkan bahaya. Atmosfer juga menghalangi radiasi berbahaya dari ruang angkasa. Dengan atmosfer ini, hanya 7% radiasi berbahaya yang bisa sampai ke bumi. Di sini terdapat satu hal yeng perlu diperhatikan : radiasi yang mampu menyokong kehidupan di muka bumi hanyalah radiasi yang diterima bumi.
Dan ingatlah, bahwa jarak bumi dan matahari adalah tepat, tidak telalu jauh dan tidak terlalu dekat. Ketika menatap langit, jika Allah tidak menciptakan atmosfer, tak akan mungkin kita hidup di dunia. Allah adalah kekuatan yag Agung. Jika dia tidak menjaga bumi ini, meteor-meteor raksasa akan menimpa bumi dan manghancurkannya. Kita dapat merenungkan segala yang diciptakan oleh Allah untuk manusia. Yang demikian itu akan menjadi jalan untuk menunjukkan kebesaran Allah.

Read More......

KENAPA LAUT DI CIPTAKAN



ALLAH telah mnyatakan dalam Al-Qur'an yang artinya : (Dan Dia-lah, Allah yang menundukkan lautan, agar kamu dapat memakan dari padanya daging yang segar) sesungguhnya Allah SWT menciptakan laut dan meluaskannya karena sangat besar manfaatnya. Allah menciptakan laut yang merupakan bagian dari bumi yang mengelilingi daratan.


Allah menciptakan lautan sebagai tempat menyimpan berbagai macam kekayaan. Baik yang sudah terditeksi manusia maupun yang belum. Lautan juga menyimpan berbabgai macam aneka permata. Dalam menciptakan laut Allah juga menyimpan bnyak mutiara yang bundar dalam rumah kerang di dasar laut, bagaimana Dia menentukan keberadaan marjan yaitu muatiara yang sangat halus disamping batu-batu besar di dalam lautan. Sebagaiman dalam firman-Nya :
“ dari keduanya keluar mutiara dan marjan” (QS. Ar-Rahman: 22).

Lautan merupakan sarana untuk menyimpan ikan-ikan, dengan berjuta-juta jumlahnya yang setiap hari di tangkap oleh manusia baik dengan cara tradisional atau moderen takkan pernah mengalami kekurangan atau kemusnahan. Kita sering saksikan di tempat-tempat pelelangan ikan di seluruh teminal pelabuhan di muka bumi ini berapa banyak setiap harinya di konsumsi oleh manusia.



Dengan menciptakan laut, maka manusia dapat berlayar dipermukaannya dimana hamba-hamba Allah dapat mengadalkan perjalanan untuk mencari harta dan menyelesaikan segala urusan-urusannya. Hal ini merupakan salah satu tanda dari kekuasan-Nya. Allah menjadikan bahtera agar mereka dapat mengangkut barang bawaan mereka. Manusia dapat berpindah dari satu daerah kedaerah lain yang tidak dapat mereka capai kecuali dengan menggunakan kapal-kapal. Seandainya mereka dapat melakukan perjalanan tanpa bahtera tentunya akan mengalami kesulitan yang sangat besar. Maka dengan kewalesan Allah kapada hamba-Nya ini, Allah ingin memudahkan kepada meraka dalam memindahkan barang-barangnya bahkan antar negara, maka Allah menciptakan kayu-kayu yang dapat di degerakkan oleh udara sehingga terbawa air dan tetap tidak dapat tenggelam.

Pada saat yang sama Allah juga mengirim angin dengan ukuran tertentu dan menjalankan kapal-kapal dari suatu tempat ke tempat lain, lalu Dia memberikan ilham pada pemilik kapal berupa pengetahuan tentang waktu-waktu dan periode-periode angin berhembus sehingga mereka dapat melakukan perjalanan dengan memanfaatkan bantuan angin tesebut. Allah juga menciptakan air yang sangat halus, lembut, dapat mengalir dan menyatu seolah-olah ia merupakan sesuatu yang satu, halus susunannya, sangat cepat untuk terbagi-bagi seolah-olah sesuatu yang terpisah dan sangat cepat dapat terpisah, sehingga kapal-kapal dapat berlayar di atasnya.

Semuanya adalah sebagai bukti yang tampak, petunjuk-petunjuknya saling menguatkan dan tanda-tanda yang teratur di atas dengan keadaan yang sangat nyata, yang menerangkan kesempurnaan kekuasaa-Nya dan keajaiban hikmah-Nya seolah-olah dapat dikatakan : “Tidaklah kita melihat bentuknya, susunannya, ciri-ciri di satu waktu, perubahan dan keadaanku, dan banyak manfaatku ? Apakah seseorang yang memiliki hati yang bersih dan akal yang jernih mereka mengatakan : “ Maha kuasa Allah atas segala penciptaanya dan Maha perkasa atas segalanya”.

Read More......